Sabar Hadapi Kenyataan Hidup, Misransyah: Beginilah Keadaan Rumah Saya

569

SOROT – Semua orang pasti ingin tinggal disebuah rumah yang layak, namun pada kenyataannya terkadang masih ada yang dijumpai orang-orang tinggal di sebuah tempat yang mengiris hati jika dilihat.

Hari itu, Senin 2 Februari 2020, sorotonline.com bertandang ketempat tinggal Misransyah yang berukuran 4×6 meter di RT 01 Desa Tepian Batang, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menit menempuh perjalanan dari Tanah Grogot menuju rumah Misransyah menggunakan kendaraan roda dua. Sepanjang jalan yang dilalui cukup mulus dengan kondisi beraspal dan sebagian cor beton.

Namun untuk sampai ke rumah yang dihuni Misransyah bersama istrinya Hamidah harus melewati jalan tanah sepanjang 100 meter, karena rumah itu tidak berdiri tepat di pinggir jalan.

Untungnya pada saat media ini menyambangi Misransyah dirumahnya, cuaca cukup bersahabat dengan keadaan cerah, sehingga tidak ada kendala saat kendaraan melintasi jalan itu.

Jauh dari keramaian dan suara bising kendaraan, sesampainya dirumah itu, dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara kicauan burung yang merdu, sesekali burung itu mengepakkan sayapnya terbang ke udara.

Misransyah membuka pintu rumah dan mempersilahkan masuk, kepada sorotonline.com si tuan rumah menceritakan keadaannya dan diakui serba kekurangan, namun dirinya penuh kesabaran menghadapi kenyataan hidup.

“Beginilah keadaan rumah saya, kalau hujan deras pasti banjir dan becek dalam rumah, bisa dilihat sendiri lantainya langsung tanah, ini aja tanahnya masih basah karena hujan tadi malam,” kata Misransyah.

Setelah menunjukkan ruang tamu berdinding baleho bekas, terpal dan kayu papan seadanya, pria kelahiran 1979 itu lalu mempersilahkan bergeser kebagian dapur rumahnya.

Disana tak ditemukan kompor gas dan tabung bersubsidi 3 kg. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini mengandalkan kayu bakar untuk memasak.

“Masak pake kayu bakar aja, kayunya banyak disekitar sini, mau pake kompor gas tapi istri tidak berani, dan ini juga sekaligus ngirit, karena banyak juga keperluan lain, seperti bayar kredit motor,” ucapnya.

Sedangkan untuk mendapatkan air bersih dan aliran listrik untuk menerangi rumahnya dimalam hari, Misransyah yang sudah tinggal selama dua tahun di rumah itu hanya mendapatkan dari tetangganya.

“Listrik nyambung sama tetangga depan sana, termasuk juga air minum dapat dari sana. Kalau untuk mandi diparit ini aja, tapi terkadang badan gatal. atau kalau pas hujan nadahin air bisa untuk mandi dan cuci,” paparnya.

Misransyah yang bekerja sebagai pegawai tidak tetap, mengaku juga berkebun dilahan sekitar rumahnya dengan tanaman berupa serai, lengkuas dan singkong.

“Alhamdulillah tanah dipinjamkan orang, disuruh nanam, yang penting jangan tumbuhan yang keras, saya tanamlah serai, lengkuas dan singkong,” terangnya.

Meskipun jumlahnya tak banyak, Hasil kebun yang biasanya diurus selepas dirinya pulang kantor dijual ke pasar Induk Senaken.

Tak lama bercerita, Misransyah pun melangkahkan kaki menuju ke kebun yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya. Terlihat dirinya sedang mencabut batang singkong dibawah terik matahari.

“ini hasil singkong yang saya tanam, dibawa pulang ya, nanti dicoba dirumah, empuk kok singkongnya,” ungkapnya sambil meletakkan singkong yang sudah dalam kantong plastik. (rsd)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.