News

Ketabahan di Balik Puing Pepaya: Pelajaran Berharga dari Tanah Grogot


SOROTONLINE.COM – Langit di atas Desa Tepian Batang, Kecamatan Tanah Grogot mendadak berubah legam pada Sabtu (11/4/2026). Angin selatan yang dikenal membawa hawa dingin, kali ini datang dengan amarah. Deru angin kencang yang beradu dengan dentum petir menyambar, memaksa alam tunduk dalam kepasrahan.

Bagi Rusdi, seorang petani pepaya setempat, sore itu bukan sekadar hujan biasa. Di tengah riuhnya badai, ia harus menyaksikan satu per satu batang pepaya miliknya hasil keringat yang dirawat berbulan-bulan tumbang berserakan di atas tanah becek.

​Pepaya, dengan batangnya yang berongga dan buah yang berat, memang rentan terhadap terjangan angin kencang. Kombinasi tanah yang melunak akibat hujan deras dan dorongan kuat angin selatan membuat perakaran tak lagi mampu menopang beban.

Saat badai mereda, pemandangan pilu tersaji di hadapan Rusdi. Kebun yang biasanya rapi kini tampak berantakan. Kerugian materiil jelas terpampang nyata, namun ada sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar hitungan angka di benak pria ini.

​Meski didera musibah, tak ada rona putus asa yang berlebihan di wajah Rusdi. Baginya, bertani adalah soal bersahabat dengan alam termasuk menerima risikonya.

“Setiap pohon yang tumbang punya cerita. Ini bukan sekadar rugi uang, tapi soal bagaimana kita belajar membaca tanda-tanda alam ke depannya,” ungkap Rusdi dengan nada tenang.

​Rusdi memilih melihat kejadian ini sebagai investasi pengalaman. Ia mulai merencanakan langkah antisipasi untuk masa tanam berikutnya, seperti:
• ​Pemasangan ajir (penyangga) yang lebih kokoh.
• ​Pembuatan parit drainase yang lebih baik agar tanah tidak terlalu gembur saat hujan ekstrem.

​Kisah Rusdi di Desa Tepian Batang adalah potret ketangguhan petani lokal. Di saat cuaca ekstrem makin sulit diprediksi, sikap adaptif dan pantang menyerah menjadi modal utama.

Musibah Sabtu sore itu memang merobohkan pepayanya, namun tidak dengan semangatnya. Bagi Rusdi, badai mungkin bisa merusak panen, tapi badai jugalah yang menempa seorang petani menjadi lebih tangguh dan bijaksana dalam mengolah bumi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.