Profil

Di Balik Debu Persiapan Konferkab: Menakar Marwah PWI Paser di Persimpangan Zaman


​Oleh: TB Sihombing
SOROTONLINE.COM – ​Udara di Kabupaten Paser belakangan ini terasa sedikit berbeda. Bukan sekadar soal cuaca, melainkan desas-desus yang mulai memanas di kalangan “kuli tinta”.

Di sudut-sudut kedai kopi, obrolan tentang siapa yang akan menakhodai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Paser periode 2026-2029 menjadi menu utama yang tak kalah pahit dari kafein.

Tepat pada 7-8 Juni 2026 mendatang, Bumi Daya Taka akan menjadi saksi sejarah. Konferensi Kabupaten (Konferkab) ke-VI bukan sekadar seremoni ganti wajah pimpinan, melainkan sebuah ajang refleksi: Masihkah pers di sini menjadi pilar keempat demokrasi, atau sekadar pemanis kursi birokrasi?

Dua sosok telah muncul ke permukaan: Muhammad Najib dan Tomi Wirahadi Wijaya. Keduanya memikul harapan yang tidak ringan. Di pundak mereka, masa depan organisasi profesi tertua di Indonesia ini digantungkan.

Namun, ini bukan sekadar soal memenangkan suara, melainkan tentang menjaga keberlangsungan hidup pers di tengah gempuran algoritma media sosial yang kian beringas.

Saat ini, kepercayaan publik berada di titik nadir. Pers seringkali terlihat gagap mengontrol kuasa, bahkan terkadang kehilangan taji dalam menyuguhkan kebenaran.PWI Paser ke depan dituntut menjadi mitra strategis pemerintah, namun tetap dengan mata yang tajam untuk mengawasi praktik KKN.

“Menyelamatkan kehidupan pers berarti ikut menyelamatkan denyut nadi demokrasi di negeri ini.”

Sebagai jurnalis yang telah delapan tahun bergelut dengan tenggat waktu tujuh tahun di antaranya di habiskan di Paser, saya merasakan ada yang “macet” dalam roda organisasi saat ini.

Ketidakmampuan memimpin organisasi seringkali berakar dari ketidakmampuan mengolah buah pemikiran. Inilah koreksi besar yang harus ditelan pahit-pahit oleh kepengurusan sekarang.

Wartawan bukan sekadar profesi mencari makan. Ia adalah “ratu dunia” yang mahkotanya adalah wawasan dan rasa ingin tahu. Jangan sampai kita dicap hanya sebagai corong informasi atau tukang stempel kebijakan.

Konferkab kali ini harus menjadi momentum pembersihan diri. Ada beberapa poin krusial yang perlu direnungkan sebelum surat suara dicoblos:

1.Bukan Ajang Ambisi: Pimpinan terpilih harus datang dengan semangat melayani, bukan untuk membusungkan dada di hadapan kolega.

2.Kesetaraan Martabat: Membawa profesi jurnalis lebih terpandang dan sejajar dengan pemangku kepentingan lainnya.

3.Menolak Oligarki: Panggung PWI tidak boleh dijadikan anak tangga untuk memperkaya diri atau merapat ke lingkaran oligarki yang merusak.

Sebagai penutup, Edukasi adalah Panglima
​Sejatinya, tugas utama wartawan adalah mengedukasi publik. Jika kita hanya menganggap pekerjaan ini sebatas rutinitas mengetik tanpa jiwa, maka kita telah kalah sebelum berperang.

Senin, 8 Juni nanti, saat ketua baru dilantik, kita tidak hanya ingin melihat senyum seremonial, tapi Kita juga ingin melihat sebuah komitmen bahwa PWI Paser akan kembali pada khittahnya: menjadi nurani bagi masyarakat dan pengingat bagi penguasa. Semoga Konferkab ke-VI ini bukan sekedar rotasi kursi, melainkan rotasi nurani.

Catatan Redaksi:Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis menjelang pelaksanaan Konferkab PWI Paser 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.