Ditolak Bank, Orangtua Tak Mampu Membiayai Anak Terkena hidrocephalus

SOROT – Sudah sekitar delapan bulan penyakit hidrocephalus bersarang di kepala Sri Wahyuningsih, akibat penyakit itu, Sri Wahyuningsih yang baru berumur satu tahun itu, hari-harinya hanya bisa merasakan sakit lewat rintihan diatas tempat tidur.

Lahir dari keluarga yang kurang mampu, Irfan Suri dan Munah sebagai orangtua Sri Wahyuningsih hanya bisa pasrah dan memanjatkan doa untuk kesembuhan sang buah hati.

Begitu besar harapan Irfan, sang ayah untuk kesembuhan anaknya yang ketujuh, namun sebagai orang yang tak mampu, ia pun tak berani melangkahkan kaki membawa Sri Wahyuningsih ke rumah sakit.

“Dulu hanya pernah dibawa ke Puskesmas, dari Puskesmas itu sebenarnya sudah ada surat rujukan, tapi karena belum ada biaya jadi belum dibawa ke rumah sakit,” kata Irfan, Rabu (24/1/18).

Berharap agar bisa membawa putrinya ke rumah sakit, Irfan yang juga warga Desa Mendik/Mendik 4, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, Kaltim, mencoba datang ke salah satu bank dengan niat meminjam dana.

Bermodal selembar Surat Keterangan Tanah (SKT) Irfan pun mengajukan permohanan pinjaman, dari dana pinjaman itulah nantinya yang ingin digunakan untuk membiayai pengobatan anaknya. Tapi sayang pihak bank tak bisa mengabulkan keinginannya.

“Saya coba pinjam dana di bank tapi ditolak karena jaminannya SKT, kata orang bank sekarang jaminan tanah harus sertifikat. Dulu sih saya pernah pinjam jaminan SKT dan dapat Rp 30 juta, tapi sekarang nda bisa,” ucapnya.

Derita yang dialami anaknya juga pernah dimunculkan di Media Sosial (Medsos) kata Irfan, sehingga banyak yang iba apa yang dialami Sri Wahyuningsih. Bahkan di antara pengguna medsos itu, ada yang menyisihkan rezekinya untuk Sri Wahyuningsih.

“Ada beberapa orang yang mengirim dana ke rekening, yang langsung ada juga seperti Lembaga Amil Zakat Dana Peduli Ummat Kaltim Cabang Paser. Semuanya sempat terkumpul waktu itu sekitar Rp 2,5 juta,” ujarnya.

Menurut Irfan, kondisi kepala Sri Wahyuningsih saat ini selalu mengeluarkan cairan, bahkan mata sebelah kanannya sempat mengeluarkan darah. Ditengah derita itu, hanya tangis yang terdengar dari mulut balita itu.

“Ada cairan di kepalanya, matanya juga pernah berdarah, memang awalnya dia kena hidrocephalus dari matanya kemudian naik ke kepala, waktu itu Sri masih berusia empat bulan, sekarang umurnya sudah satu tahun,” terangnya.

Untuk kesembuhan Sri, Irfan hanya bisa berharap kepada pemerintah daerah. “Kalau saya hanya bisa pasrah dengan cobaan ini, saya gak punya kemampuan membiayai pengobatan anak, saya hanya bekerja dikantor desa, selain itu juga sebagai tukang bangunan. Saya hanya berharap pada pemerintah kita,” harapnya. (rsd)

admin1:

This website uses cookies.