News

Ponta, Kuliner Tradisional Khas Paser yang Nyaris Tergerus Zaman, Disporapar Dorong Pelestariannya

SOROTONLINE.COM – Di tengah persiapan Kabupaten Paser menyambut ribuan tamu pada perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim VIII/2026, ada satu hal yang tak ingin dilewatkan pemerintah daerah, yakni memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner khas Bumi Daya Taka.

Selain venue pertandingan, destinasi wisata, hingga kesiapan kontingen, keberadaan kuliner tradisional juga menjadi bagian penting untuk memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang datang dari luar daerah.

Pasalnya, berkunjung ke suatu daerah tentu tak lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh atau mencicipi makanan khas setempat.

Namun, persoalannya, masih banyak masyarakat, bahkan di Kalimantan Timur dan Kabupaten Paser sendiri, yang belum benar-benar mengenal makanan tradisional yang menjadi identitas daerahnya.

Hal inilah yang menjadi perhatian Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Paser, khususnya Bidang Kepariwisataan.

Menjelang Porprov Kaltim VIII/2026, Disporapar Paser berencana menghadirkan Expo Porprov yang tidak hanya menjadi ruang promosi kegiatan olahraga, tetapi juga menjadi etalase bagi berbagai potensi daerah.

Mulai dari kerajinan tangan, pernak-pernik khas Paser, produk UMKM, hingga kuliner tradisional akan diperkenalkan kepada para tamu yang datang ke Kabupaten Paser.

Salah satu kuliner yang mendapat sorotan adalah Ponta, jajanan tradisional yang disebut sebagai salah satu makanan khas asli Kabupaten Paser.

Kabid Kepariwisataan Disporapar Paser, Khairuddin, mengatakan Ponta merupakan makanan tradisional berbahan dasar ketan muda yang diolah bersama gula merah dan kelapa.

“Makanan khas Paser itu sebenarnya Ponta. Ponta itu ya ketan muda, dari campuran gula merah dan kelapa. Cuma kesulitannya kita di Ponta itu bahan bakunya,” kata Khairuddin.

Menurut pria yang akrab disapa Khey tersebut, keberadaan Ponta kini semakin jarang ditemukan di pasaran maupun diproduksi oleh pelaku UMKM.

Bukan karena proses pembuatannya yang sulit, melainkan bahan baku utama berupa ketan muda tidak tersedia sepanjang tahun.

“Bahan bakunya ketan muda ini kan enggak ada setiap saat, musiman,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Ponta perlahan semakin sulit ditemukan. Padahal, menurut Khairuddin, proses pengolahannya relatif sederhana.

Ketan yang masih muda atau masih berwarna hijau ditumbuk hingga menghasilkan beras muda yang kemudian dapat diolah menjadi Ponta.

“Sebenarnya pengolahannya itu juga tidak terlalu rumit. Karena bahan bakunya dari ketan muda yang masih hijau itu yang ditumbuk jadi beras masih muda yang masih bisa dikonsumsi,” jelasnya.

Bahan bakunya sebenarnya dapat ditemukan di wilayah Paser. Namun, masyarakat harus menunggu waktu yang tepat, terutama ketika tanaman padi memasuki fase yang sesuai untuk diambil ketan mudanya.

“Di mana ada orang bertani menanam padi bisa saja membuat Ponta itu. Cuma ya itu sudah khasnya Paser Ponta, cuma kesulitannya di bahan baku ini,” tuturnya.

Disporapar Ingin Ponta tak hilang ditelan zaman, sehingga perhatian terhadap Ponta bukan sekadar persoalan memperkenalkan makanan tradisional kepada wisatawan.

Lebih dari itu, keberadaan Ponta menjadi bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan kuliner Kabupaten Paser agar tidak hilang ditelan zaman.

Khairuddin menilai, momentum Porprov Kaltim VIII/2026 dapat menjadi kesempatan bagi Paser untuk memperkenalkan kembali berbagai kekayaan daerah kepada ribuan orang yang datang.

Terlebih, makanan yang selama ini banyak dijual di wilayah Paser justru didominasi oleh kuliner yang berasal dari luar daerah.

Ia mencontohkan beberapa jajanan seperti lidah sapi, kue cincin dan sejumlah makanan lainnya yang cukup mudah ditemukan di pasaran Paser.

Karena itu, menurutnya, perlu ada upaya untuk kembali mengangkat makanan yang benar-benar memiliki keterikatan dengan sejarah dan budaya masyarakat Paser.

Ponta menjadi salah satu kuliner yang dinilai layak mendapatkan ruang tersebut.

Melalui Expo Porprov, Disporapar Paser berharap masyarakat tidak hanya mengenal Paser melalui olahraga dan pariwisatanya, tetapi juga melalui cita rasa kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Ponta mungkin sederhana. Namun di balik sepiring jajanan berbahan ketan muda, gula merah dan kelapa itu tersimpan cerita tentang tradisi masyarakat Paser yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya. (adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.