Menjaga Marwah di Era Digital, Catatan dari Balik Konferkab PWI Paser 2026
SOROTONLINE.COM – Riuh rendah obrolan khas kuli tinta beradu dengan hangatnya kopi pagi di Aula Kecamatan Tanah Grogot, Minggu, 7 Juni 2026. Itu bukan hari biasa bagi insan pers di Kabupaten Paser.
Seluruh anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Paser berkumpul, duduk bersama pengurus PWI Kalimantan Timur dan sejumlah pejabat Forkopimda. Mereka hadir untuk satu agenda besar, Konferensi Kabupaten (Konferkab) PWI Paser Periode 2026–2029.
Di dinding aula, sebuah spanduk membentang kokoh, menegaskan arah angin organisasi tiga tahun ke depan. “Memperkuat Solidaritas dan Profesionalisme Wartawan dalam Menjaga Independensi Pers di Era Digital.” sebuah tema yang bukan sekadar pemanis dekorasi, melainkan sebuah jawaban konkret atas badai tantangan yang sedang dihadapi industri media saat ini.
Saat Ketua PWI Kaltim, Abdurrahman Amin, melangkah ke podium memberikan sambutan, suasana aula mendadak hening. Pria yang akrab disapa Rahman ini langsung menusuk ke jantung dinamika organisasi kompetisi perebutan kursi ketua.Baginya, rivalitas dalam Konferkab adalah hal yang lumrah, bahkan menyehatkan.
Dikatakan, dua kandidat yang maju telah melewati proses penyaringan yang ketat, ini sebuah warisan sistem demokrasi rigid yang adil dari mantan Ketua PWI Pusat, Henry Ch Bangun. Di PWI, tidak semua orang bisa memilih, dan tidak semua anggota bisa dipilih. Ada standar tinggi yang harus dilewati.
“Pertarungan yang keras dalam proses konferensi nanti tentu saja bukan untuk mengotak-kotak, untuk menjadi ketua PWI perlu usaha dan program yang nyata. Solidaritas ini adalah modal bersama.” ujar Rahman
Dengan nada santai namun mendalam, ia mengingatkan para kandidat untuk menyisakan ruang keikhlasan di dalam hati. Menurutnya, manusia boleh berikhtiar lewat visi dan misi, namun ketukan hati para pemilih di bilik suara adalah domain Tuhan yang tidak bisa diintervensi.
“Kerasnya pertarungan itu selesai hari ini. Besok, siapa pun yang terpilih, kita dilantik sama-sama dan maju bersama,” imbuhnya.
lebih lanjut Rahman menyoroti kata “Profesionalisme”. Di era di mana batasan antara jurnalisme produk pers dan konten media sosial kian kabur, profesionalisme adalah benteng terakhir. PWI sendiri telah memagari hal ini secara ketat lewat sistem Uji Kompetensi Wartawan (UKW) mulai dari tingkat Muda, Madya, hingga Utama.
Konferkab Paser kali ini pun menjadi panggung bagi mereka yang telah menyandang kompetensi Madya untuk memimpin. Namun, Rahman mengingatkan bahwa kartu kompetensi di dompet tidak ada gunanya jika tidak dibersamai oleh moralitas.
“Kompetensi adalah kemampuan teknis, sedangkan etika dan integritas adalah jangkar moralnya. Sedikit saja kita menurunkan level profesionalisme, bukan cuma reputasi pribadi kita yang dipertaruhkan, tapi profesi wartawan secara keseluruhan,” tegas Rahman dengan mimik serius.
Tantangan terbesar berikutnya kata Dia adalah menjaga ruh utama pers. Independensi di era keterbukaan informasi, publik tidak bisa lagi dibohongi. Sehebat apa pun seorang wartawan memanipulasi informasi untuk kepentingan kelompok tertentu, rekam jejak digital akan menelanjanginya. Lambat laun, publik akan tahu apakah karya tersebut objektif atau sekadar pesanan golongan.
Rahman menceritakan pengalamannya di ibu kota provinsi, Samarinda. Setiap hari, ia harus meladeni wawancara dan meluruskan persepsi publik yang sering menyamakan produk pers dengan riuhnya informasi di media sosial.
Saat ini, landscape komunikasi politik telah bergeser secara radikal.
Jika 5 hingga 10 tahun lalu komunikasi politik hanya menjadi pelengkap, kini ia telah menjelma menjadi bagian dari instrumen kekuasaan itu sendiri. Di sinilah pers harus berdiri tegak secara independen untuk menyuarakan apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, bukan apa yang diinginkan penguasa.
Menutup sambutannya, Abdurrahman Amin memberikan sebuah refleksi mendalam yang menohok sanubari para wartawan yang hadir.
“Dulu, kita bisa petantang-petenteng membawa background media kita yang besar di belakang. Tapi sekarang, siapa pun bisa membuat media. Karena itu, reputasi pertama yang harus dijaga adalah bagaimana menjaga marwah pribadi kita sendiri sebagai wartawan.” terangnya.
Jika marwah pribadi sudah terjaga lewat tiga pilar integritas, moralitas, dan kompetensimaka secara otomatis marwah organisasi PWI dan profesi jurnalis secara keseluruhan akan ikut terangkat.
Konferkab PWI Paser 2026 bukan sekadar ajang seremonial pilih-memilih pemimpin baru. Dari aula Kecamatan Grogot, para jurnalis Paser kembali diingatkan tentang khitah mereka, menjadi mata, telinga, dan suara publik yang jujur, tajam, dan merdeka di tengah belantara digital. (rsd)
