Rasa Takut dan Capek Terbayarkan Setelah Mendengar Tangisan Bayi

1951

SOROT – Tidak pernah menyerah dan putus asa, itulah tekad Lia Mariyati, bidan yang bertugas di Puskesmas Desa Sebakung Taka Kecamatan Longkali, Kabupatan Paser Kaltim. Selain bekerja rutin di puskesmas, dirinya juga sering pendapat panggilan oleh warga untuk diminta menangani persalinan. Jika sudah seperti itu dirinya tak pernah menolak meski waktunya tengah malam.

“Saya biasa dipanggil tengah malam untuk melakukan persalinan dan tidak ada kata menolak, apa lagi ini menyangkut dengan keselamatan si ibu hamil, jadi enggak perduli tengah malam, mau jauh atau dekat tetap jalan,” tuturnya.

Tanpa ada yang menemani, Mariyati hanya bisa berserah kepada Yang Kuasa, saat menerobos gelapnya malam di tengah persawahan, rasa takut yang hadir padanya terpaksa ia tahan demi menunaikan tugas mulia untuk melakukan persalinan.

13

“Saya naik sepeda motor, tapi jalan yang dilewati gelap, licin, sepi dan sudah pasti timbul rasa takut, tapi untuk menyelamatkan seseorang saya harus berjuang sampai ketujuan. Rasa takut dan capek itu terbayarkan di saat mendengar suara tangisan bayi serta proses persalinannya lancar,” tuturnya.

Ia juga mengaku pernah sempat khawatir menghadapi ibu hamil yang mau melahirkan dalam keadaan prematur, sehingga ia menyarankan harus dilakukan rujukan karena takut kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tapi oleh suami ibu tersebut bersikeras tak menyetujui istrinya dirujuk.

“Waktu itu saya was-was, karena ibunya harus dirujuk sebenarnya tapi suami dan kelurganya enggak mau sama sekali, tetap saya yang dimintanya untuk melakukan persalinan. Karena sudah tidak ada jalan lagi, sebelum mengambil tidakan kita minta surat penolakan rujukan. Setelah surat itu ada baru dilakukan tindakan. Dan bersyukur semua berjalan lancar, bahkan sampai sekarang anaknya sehat,” terangnya.

Mariyati yang sempat dianugrahi penghargaan oleh Gubernur Kaltim sebagai bidan pelopor wilayah perbatasan ini, tak pernah memandang sebelah mata dukun yang ada di desa, ia mengajak para dukun bayi untuk bekerja sama saat menangani persalinan.

“Kita harus bermitra dengan dukun, karena di Sebakung Taka masih banyak dukun bayinya dan terkadang dulu masih terbagi antara bidan dengan dukun untuk melakukan persalinan sehingga kita harus bermitra,” tuturnya.

Mariyati mengaku, warga di desa tempat ia bertugas masih banyak yang memanggil dukun untuk melakukan persalinan, sementara targetnya harus melahirkan melalui tenaga kesehatan. “Sehigga bagaimana cara kita harus bermitra,” kata wanita yang sempat mememecahkan rekor terbanyak melakukan persalinan di antara angkatannya 99 orang bidan itu.

Saat ini kata Mariyati, warga sudah memahami bagaimana pentingnya kehadiran seorang bidan sehinggga melalui kesepakatan yang difasilitasi oleh Pemeritah Desa Sebakung Taka, maka antara bidan dan dukun melalui perjanjian harus bermitra dalam menangani persalinan. (rsd)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.