UKM Turun Temurun, Pengrajin Atap Nipah di Paser Tetap Bertahan dan Ramai Pembeli

194

SOROTONLE.COM – Nipah adalah tumbuhan jenis palem (palma) biasanya tumbuh dilingkungan hutan bakau daerah pasang surut tepian sungai. Karena memiliki banyak kegunaan, tak sedikit warga biasa memanfaatkan daun nipah tersebut menjadi atap.

Seperti yang dilakukan Rahma, warga Desa Rantau Pajang, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Dirinya mengaku Usaha Kecil Menengah (UKM) berupa Kerajinan daun nipah sebagai profesi yang digeluti merupakan warisan turun-temurun dari orangtuanya.

Sekitar 40 tahun lalu semasa dirinya masih anak-anak, Rahma sudah mulai belajar dan membantu orangtuanya menjahit daun nipah menjadi atap. Dimana saat itu atau sebelum tahun 90-an masih banyak rumah warga utamanya di pedesaan menggunakan atap nipah.

“Ini usaha turun temurun dari orang tua, yang jelas saya sudah bekerja atap daun nipah ini sejak kecil sekitar 40 tahun lalu sampai sekarang,” kata Rahma, Jumat (5/8/2022) sambil menyebutkan alamat usahanya di RT 4 Gang Rawa Singgah, Desa Rantau Pajang.

Untuk mendapatkan daun nipah, wanita pekerja keras ini harus menelusuri sungai Kandilo di pagi hari menggunakan perahu ketinting dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setelah beberapa jam mengumpulkan daun nipah Rahma pun kembali sebelum waktu Zuhur.

“Dari sini jam 08.00 berangkat melalui jalur sungai menggunakan perahu ketinting, jam 11.00 sudah ada di rumah kembali. Dapat daun nipah kadang 5 sampai 6 ikat, isinya satu ikat itu sekitar 20 lembar daun nipah,” terangnya.

Setelah bahan baku berupa daun nipah itu sudah berada di rumah atau dilokasi, proses pembuatannya mulai dilakukan, dengan menggunakan tulangan bambu sepanjang 1,4 meter satu-persatu daun nipah dilipat lalu dijahit saling berhubungan antara daun.

“Satu lembar atap daun nipah hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit, rata-rata setiap orang bisa mengerjakan 25 hingga 100 lembar bagi yang cepat perharinya. Upah untuk karyawan dihitung perlembar dengan besaran Rp 500, jadi 100 lembarnya Rp 50 ribu,” ujarnya.

Untuk karyawan kata Rahma, ada sebanyak 10 orang, namun jika orderan banyak pekerjanya bisa sampai 15 orang, dengan jumlah karyawan sebanyak itu mereka dalam 10 hari dapat memproduksi 10 ribu lembar atap daun nipah.

“Karyawannya itu dibagi, ada yang nyari daun nipah dan ada yang jahit, dan ini dikerjakan pada siang hari aja, karena kalau malam kendalanya banyak nyamuk, kalau dulu kendalanya lampu tapi sudah ada, sekarang nyamuk lagi kendalanya,” paparnya.

Untuk menjualan atap daun nipah yang sudah diproduksinya, dalam satu bulan biasanya laku hingga 15 ribu lembar, penjualannya sudah masuk ke sejumlah desa yang ada di Bumi Daya Taka dan bahkan merambah keluar daerah.

“Yang pesan biasanya dari Batu Kajang, Lolo, Sangkuriman, Longkali dan Tanah Grogot. Pernah juga ada yang yang pesan dari luar daerah, tapi itu dulu, sekitar 6000 lembar. Untuk harga perlembar Rp 2500 tuturnya.

“Sekarang yang banyak ngambil dari Sangkuriman buat kandang ayam termasuk juga daerah Jone. Kemarin ada juga pesanan dari perusahaan besar yang ada di sini sekitar 5000 atap,” tutupnya. (adv)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.