Berkat Bantuan, Proses Pengolahan Sagu Lebih Cepat dan Terjual ke Sejumlah Kota

637

SOROT – Pemasaran sagu hasil olahan Kelompok Sentra Sagu Pada Idi, yang berdomisili di Desa Paser Belengkong Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kaltim, saat ini sudah menembus ke beberapa kota di Kaltim dan Kalsel.

Menurut Dedy Supriadi, Ketua Kelompok Sentra Sagu Pada Idi, proses pengiriman sagu ke beberapa kota seperti Balikpapan, Samarinda, Bontang, Barabai, Banjarmasin dan beberapa kota lainnya, yakni melalui pengumpul yang datang langsung ke lokasi pengolahan sagu milik kelompoknya.

“Kalau untuk penjualan, pengumpul langsung yang datang kesini karena memang sudah berlangganan, kami jual dengan harga Rp 3 ribu dan sebulan sekitar 3 ton sagu yang dibawa keluar,” kata Dedy Supriadi, Kamis (19/4/18).

Banyaknya permintaan sagu ke sejumlah kota itu membuat kelompok yang beranggotakan tujuh orang itu harus mampu memenuhi permintaan. Setiap harinya, kelompok itu rata-rata mampu menghasilkan 300 kilogram bahan baku tepung sagu dari dua batang pohon sagu yang didapat dari tepian sungai Kandilo dan Seratai.

Satu batang pohon sagu, Kelompok Sentra Sagu Pada Idi membayar kepada pemiliknya dengan harga Rp 100 ribu. Setelah proses penebangan menggunakan gergaji mesin chainsaw selesai, lalu dihanyutkan di sungai sambil ditarik menggunakan perahu ketinting menuju ketempat pengolahan tepung sagu.

Untuk mengolah dua batang sagu kata Dedy, biasanya hanya butuh waktu 4 jam, durasi pengolahan itu termasuk cepat dibanding sebelum-sebelumnya. Mengapa demikian? jawaban bapak dua anak itu, semua berkat bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser.

“Sekarang pengolahannya lebih cepat, biasa kalau kita kerja dari jam 7 sampai jam 11 dua batang sagu selesai, ini karena kita menggunakan alat pemarut dan penyaring sagu hasil dari TTG (Tekhnologi Tepat Guna) yang kita buat sendiri, dananya waktu itu kita dapat bantuan dari Pemkab. Bahkan TTG yang kita buat itu juara 1 TTG tingkat Kabupaten Paser 2015 lalu,” jelasnya.

Usaha yang dirintis sejak tahun 1992 lalu itu sudah sering mendapat perhatian dari Pemkab Paser, seperti mengikuti pelatihan Gugus Kendali Mutu (GKM) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Kabupaten Paser. Dari ilmu yang didapat melalui pelatihan lalu diterapkan dalam aktivitas pengolahan sagu.

“Saya bersyukur atas bantuan Pemerintah yang bisa membuat usaha kami maju. Dan tahun ini melalui Dinas Pertanian, kelompok kami juga rencana akan dibantu berupa alat pengering sagu, semoga dengan adanya alat itu nanti usaha kami bisa lebih meningkat lagi,” ucapnya.

Sementara Kasi Pengolahan dan Pemasaran Dinas Pertanian Kabupaten Paser, Siti Hamidah mengatakan, bantuan alat pengering sagu untuk Kelompok Sentra Sagu Pada Idi akan direalisasikan pada triwulan ke dua tahun 2018. Alat itu untuk menunjang pengelolaan sagu kelompok tersebut.

“Tahun ini dua alat pengering, satu untuk kelompok Sentra Sagu Pada Idi dan satu lagi untuk kelompok lainnya yang ada di desa itu juga, mudahan untuk alat lainnya seperti pemarut kita juga bisa bantu nantinya, ini juga sudah diusulkan untuk tahun 2019,” kata Hamidah.

Menurut Hamidah, bantuan peralatan untuk menunjang usaha, juga diberikan kepada kelompok lain, seperti pada petani karet berupa Hand Mangel, alat ini berfungsi untuk menggiling bahan baku getah/latex menjadi sheet lembaran.

“Alat hand mangel itu untuk mengolah lump karet menjadi sheet tipis. Kemarin ada tujuh kelompok yang kita berikan alat hand mangel, cuma alat itu manual masih digerakkan dengan tangan, kalau kelompok yang ada di Desa Mengkudu mintanya yang digerakkan oleh mesin,” ujarnya.

Hamidah juga menjelaskan peluang bantuan peralatan untuk pengolahan gula aren, namun sayangnya sebagian besar petani aren di Paser tak memiliki kelompok, sehingga menjadi kendala tersendiri untuk memberikan bantuan peralatan, sebab saat ini, bantuan peralatan hanya bisa disalurkan melalui kelompok.

Sebenarnya ada peluang bantuan peralatan pengolahan gula aren, apa lagi gula aren disini banyak, cuma petani gak punya kelompok, sedangkan bantuan sekarang kan gak bisa perorangan, harus pakai kelompok yang sudah teregistrasi di Badan Ketahanan Pangan.

Ia menyarankan agar petani aren, membuat kelompok dan teregistrasi di Badan Ketahanan Pangan, sehingga nantinya bisa dibantu peralatan untuk menunjang usaha pengolahan gula aren. “Kalau sudah ada kelompok silahkan ajukan permohonan sebagai dasar kami,” tutupnya. (adv)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.