Beli Sepeda Second, Kapolres Paser Gowes Sampai Gunung Rambutan Kaltim

47

SOROTONLINE.COM – Di teras samping rumah dinas Kapolres Paser, yang terletak di Jalan Kusuma Bangsa Tanah Grogot, Kaltim terparkir rapi 5 unit sepeda dengan berbagai jenis warna. sepeda itu diletakkan di dua tempat, 4 sepeda tak jauh dari pintu dan satu lagi diletakkan terpisah.

Diantara sepeda itu ada satu berasal dari Kota Padang Sumatera Barat, yakni sepeda yang diletakkan terpisah dengan balutan cat berwarna merah, jangkauan tempuhnya bukan lagi kisaran puluhan tapi sudah ratusan bahkan ribuan kilometer.

Pemiliknya tak lain adalah Kapolres Paser AKBP Eko Susanto yang memiliki hobi bersepeda, saat masih berdinas di Padang Eko pernah bersepeda dari Padang menuju Kabupaten Pesisir Selatan menempuh selama 2 jam perjalanan.

“Hobi sepeda sudah lama, semenjak saya dinas di Padang tahun 2008, pernah bersepeda dari Kota Padang sampai di Kabupaten Pesisir Selatan,” ucapnya.

Disana Eko tidak menginap melainkan hanya beristirahat beberapa saat lalu kembali ke Kota Padang. Kegiatan seperti itu rutin dilakukan di saat hari libur untuk menjelajahi rute atau jalan yang ada di Sumatera Barat.

Di tengah menyalurkan hobinya bersepeda, Eko pun ditawari sepeda berjenis Road Bike (RB) oleh komunitas sepeda di Kota Padang, karena pada saat itu hampir semua pecinta sepeda di daerah itu menggunakan jenis RB.

“Awal bersepeda menggunakan MTB (Mountain Bike), teman komunitas waktu itu banyak punya RB, sedangkan saya belum punya, ditawarinya jadi saya belinya bekas, second gitu harganya 12 (Rp 12 juta),” kata Kapolres Paser AKBP Eko Susanto, Selasa (20/7/2021), di Tanah Grogot.

Setelah bertugas selama 9 tahun dari 2008 – 2017 di Sumatra Barat, Eko kemudian mendapat mutasi berdinas di Polda Kaltim, kepindahan Eko bukan hanya bersama keluarga, tapi sepeda berjenis RB yang sudah ia miliki juga ikut diboyong ke Kota Balikpapan.

Saat tugas di tempat barunya di Polda Kaltim, hobi bersepeda seperti dilakukan di Kota Padang sebelumnya masih tetap berlanjut di Kota Balikpapan, bersepeda menelusuri jalan-jalan yang ada di Kota Minyak itu.

“Di setiap ada kesempatan di sela-sela tugas waktu kosong di situ kita lakukan, yang sering itu waktu weekend hari Sabtu dan Minggu. Di Polda kalau hari Sabtu Minggu liburkan kalau nggak ada kegiatan yang urgen pasti libur, nah itu yang kita gunakan waktu bersepeda,” ucapnya.

Tak hanya rute dalam kota satu-satunya menjadi pilihan bersepeda, Eko juga mampu menaklukkan jalan poros Balikpapan – Samarinda, dengan jarak tempuh kedua kota itu berkisar 110 kilometer.

“Di Kota Balikpapan istilahnya habislah dijelajahi, makanya mengembang ke Kota Samarinda, rute Balikpapan – Samarinda sudah,” tuturnya.

Dua tahun bertugas di Polda Kaltim, Eko akhirnya mendapat kepercayaan menjabat sebagai Kapolres di kabupaten paling selatan Kaltim, wilayah hukumnya yang mencakup 10 kecamatan diakui semua sudah disambangi setiap Polsek.

Jika di Padang dan Balikpapan tempat Eko sebelumnya bertugas selalu menyalurkan hobinya bersepeda di saat weekend, maka hal serupa juga dilakukan di Tanah Grogot, Kabupaten Paser.

“Saya sudah bersepeda keliling di Paser ini, ketemu teman-teman di sini yang pehobi sepeda juga banyak. Saya pernah star dari Kantor Bupati menuju Damit sampai tembusnya ke sananya Lolo, kalau dihitung jaraknya itu sekitar 50 kilo jalur trabas,” ungkapnya.

Eko bersama komunitas sepeda di Tanah Grogot juga pernah gowes ke Desa Petangis, Kecamatan Batu Engau dan Gunung Rambutan (GNR) di Kecamatan Kuaro serta sejumlah trek lainnya yang ada di Paser.

“Waktu libur kerja kita gowes, bahkan ke GNR itu sudah dua kali bersama teman-teman. Rencana selanjutnya kalau bisa gowesnya ke Kerang ngunjungi Polsek di sana, kan sebelumnya saya sudah ke Petangis, berarti tinggal neruskan berapa kilo lagi,” ujarnya.

Jika tak ada ajakan dari teman komunitas sepeda pada hari libur, Eko memilih bersepeda bersama keluarga menelusuri jalan-jalan yang ada di Tanah Grogot.

“Kalau nggak ada teman ngajak saya sering di sini (Tanah Grogot) gowes sama anak sama istri Minggu pagi gitu keliling, orang nggak tau paling dia bilang siapa itu kalau orang belum kenal,” sebutnya.

Kegemaran Eko bersepeda bukan berarti tak menyukai jenis olahraga yang lain, hanya saja ada beberapa alasan sehingga bersepeda yang lebih lazim dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh.

“Pada umumnya saya suka apapun jenis olahraganya, tapi kenapa happynya ke sepeda, pertama pengaruh hobi kali ya, selain itu dari melatih jantung iya, melatih pernafasan paru-paru iya, kemudian dari segi umur tentu ini lebih aman saya rasa mengayuh sepeda dari pada lari,” jelasnya.

Selain alasan itu, kesukaan bersepeda dianggap tidak menoton, keindahan dan kecantikan alam dapat ditemui pada saat gowes, begitu pun terhadap silaturahmi ke sesama pecinta sepeda terjalin erat sehingga tak menimbulkan kebosanan.

“Bersepeda tidak menoton tidak bosan kita kan, jalan melihat situasi alam, bersepeda itu selain olahraga juga hobi ya, kita disitu bisa tukar pikiran sambil ngobrol-ngobrol silaturahmi sama komunitas,” ujarnya.

“Saya juga pernah coba olahraga bodybuilding, ya memang seminggu dua Minggu sampai sebulan masih bisa, tapi lewat satu bulan tingkat kebosanan itu rasanya lebih tinggi kalau tidak benar-benar motivasinya kuat,” sambungnya.

Di Paser kata dia, setahun terakhir semakin banyak kalangan pecinta sepeda yang serius menggeluti olahraga satu ini, mulai dari jenis MTB, RB, Sepeda Lipat (Seli) dan juga komunitas sepeda Minion atau jenis klasik. (rsd)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.